Halo selamat pagi siang sore malam dimanapun anda berada
Kali ini aku yang posting huehuehuehuhe *gak sadar ntar UAS
Jadi pas kapan itu aku pinjem buku komik indonesia
judulunya hidup ini indah, pengarangnya Aji Prasetyo, orang asli malang
nah disitu aku dapet beberapa statemen
gini
pernah kan memperhatikan FTV berlatar belakang jogja?
coba kalian perhatikan nama pemeran utama (yang notabene berasal dari ibu kota)
pasti namanya berbau-bau modern kan? biasanya mukanya juga agak blasteran bule
ambil saja namanya Alex.
Nah di FTV itu juga pasti ada penduduk pribumi dengan gaya bahasa yang medok
mukanya...okelah, normal. ambil saja namanya Jupri.
nah dari hal seperti itu, maka dapat disimpulkan bahwa, orang pribumi yang memang berbau indonesia itu Kampungan dan orang yang berhubungan dengan bule dan kebarat-barat an itu modern
Dalam kasus lain, coba kalian lihat di sinetron kebanyakan
orang yang memakai gamis, sorban, dan sebagainya yang berbau ke-timurtengah-an
ambil saja namanya Firaun *muehehehe
lalu mereka biasanya melawan para dukun-dukun yang memakai blangkon dan baju khas betawi yang hitam-hitam
lantas apakah yang berbau timur tengah itu standar kesolehan?
jadi disimpulkan begini
Barat sebagai standar kemodernan
Timur Tengah sebagai standar kesolehan
Kita sebagai pribumi, udah ndeso, kafir pula
Huahaha
Mau di masalah musik pun juga gitu
Keroncong dangdut dianggap kampungan
Ngambil referensi dari korea dianggap menjiplak
aku jadi inget kata-kata dari editor web jakarta beat
dia bilang "yang saya bener2 miris itu, kenapa kita sampai bisa diserang korea"
hahaha bener juga. indie masih banyak yang harus kita lestarikan, kok malah peduli ama luar negeri :))
yah sekian deh nyocotnya
ini cuma pemikiran yang didapat dari tempat sempit bernama kamar mandi
jadi, apa pikiranmu?
Kali ini aku yang posting huehuehuehuhe *gak sadar ntar UAS
Jadi pas kapan itu aku pinjem buku komik indonesia
judulunya hidup ini indah, pengarangnya Aji Prasetyo, orang asli malang
nah disitu aku dapet beberapa statemen
gini
pernah kan memperhatikan FTV berlatar belakang jogja?
coba kalian perhatikan nama pemeran utama (yang notabene berasal dari ibu kota)
pasti namanya berbau-bau modern kan? biasanya mukanya juga agak blasteran bule
ambil saja namanya Alex.
Nah di FTV itu juga pasti ada penduduk pribumi dengan gaya bahasa yang medok
mukanya...okelah, normal. ambil saja namanya Jupri.
nah dari hal seperti itu, maka dapat disimpulkan bahwa, orang pribumi yang memang berbau indonesia itu Kampungan dan orang yang berhubungan dengan bule dan kebarat-barat an itu modern
Dalam kasus lain, coba kalian lihat di sinetron kebanyakan
orang yang memakai gamis, sorban, dan sebagainya yang berbau ke-timurtengah-an
ambil saja namanya Firaun *muehehehe
lalu mereka biasanya melawan para dukun-dukun yang memakai blangkon dan baju khas betawi yang hitam-hitam
lantas apakah yang berbau timur tengah itu standar kesolehan?
jadi disimpulkan begini
Barat sebagai standar kemodernan
Timur Tengah sebagai standar kesolehan
Kita sebagai pribumi, udah ndeso, kafir pula
Huahaha
Mau di masalah musik pun juga gitu
Keroncong dangdut dianggap kampungan
Ngambil referensi dari korea dianggap menjiplak
aku jadi inget kata-kata dari editor web jakarta beat
dia bilang "yang saya bener2 miris itu, kenapa kita sampai bisa diserang korea"
hahaha bener juga. indie masih banyak yang harus kita lestarikan, kok malah peduli ama luar negeri :))
yah sekian deh nyocotnya
ini cuma pemikiran yang didapat dari tempat sempit bernama kamar mandi
jadi, apa pikiranmu?
kl ngeliat dr slogan perfilman indonesia 'satu untuk semua', yg artinya 1ide untuk semua sutradara, ya g kaget kl jadinya kyk artikel ini
ReplyDeleteorang yg pertama x bikin mungkin terinspirasi dari jaman perang dulu yah , dijajah belanda dan mngkn pada saat itu orang2 sesuai dgn artikel ini
itu cm 1orang, tp berlanjut ke sutradara2 yg lain
lalu dibuat 'hak paten', jd tiap mreka bikin film ya kyk gt :)) mungkin dengan mksud biar penontonnya bisa nerima karakter tiap tokoh dengan baik :')
sekian, no offense yah :D
padahal kalo liat potensi perfilman indonesia sendiri kalo diseriusi bisa ngalahin heri poter. kenapa sutradara2 itu nggak bikin "angling darmo and the deathly hallow" atau semacamnya ya :))
ReplyDeleteat all, makasih udah komen :)
mari bersama memajukan indonesia :))
iya betul !!! kurang bondo lah kasarannya
ReplyDeletebikin sesuatu yang beda itu 'tidak dihargai' di indonesia
mangkanya banyak warga indonesia yg bekerja dan berkreasi di luar negeri
karena mereka lebih dihargai disana :')
makakno geb ojok dadi sutradara film ngonoan *lho
ReplyDelete